Mereka tanya saya Bagaimana rasanya bertatap Dengan orang yang di tunggu? Ah, Dekat sudah. Tubuh kita tak berjarak. Tapi hati? Kamu selalu terbengkalai menatap layar telepon genggam mu Tunggu siapa? Bukan kah saya di samping mu?
Sekali Dua kali Tiga kali Seperti mimpi Bisa bisanya aku duduk di sebelah tempat ia mengantuk Iya dia tukang tidur di kelas, kapan saja Tapi dia unik dia bisa membuatku tersenyum kapan saja Aneh, padahal dia membuat lelucon untuk semuanya Tapi, hanya hati ku yang terpikat Aneh.
Bahkan satu kata saja Tidak cukup untuk menjelaskan rasa ini Luapan rasaku padanya Sampai kapan harus ku bendung? Kau bagai fatamorgana Yang dapat ku lihat, tanpa ku sentuh Walaupun tak bisa ku gapai Mengapa rasa ini begitu nyata? Fatamorgana itu semu Fatamorgana itu kebohongan Fatamorgana itu indah Fatamorgana itu kamu Aku takut fatamorgana Hilang seraya mentari menutup diri Aku takut fatamorgana Karena itu kebohongan yang indah
Comments
Post a Comment